Swift

Green Canyon: Wisata Ekstra, Penyegar Otak dan Mata


Green Canyon atau Cukang Taneuh di Pangandaran, Jawa Barat, bukan nama asing buat saya. Selama kerja di TV, berkali-kali saya liat hasil liputan ke sana. Gak cuma sekedar liat, ngedit naskah soal jalan-jalan ke Cukang Taneuh, dengan beragam angle, pernah beberapa kali juga. Jadi, meskipun belum menginjakkan kaki ke ngarai legendaris ini, saya berasa udah kenal banget tempatnya. Sebelum memulai road trip jalur selatan Jawa Barat saya memang belum sekalipun ke Cukang Taneuh. Tapi saking familiarnya saya berasa sudah pernah masuk-masuk ke dalamnya. Dahsyat banget memang liputan teman-teman, berikut naskah-naskah yang saya edit, sehingga bisa memanipulasi pikiran hahaha..


Ilusi itu akhirnya bisa jadi kenyataan. Libur sekolah atau pasca lebaran tahun 2016, saya bener-bener menapakkan kaki ke Cukang Taneuh. Sama suami, dan ngajak anak tentunya. Ini salah satu tempat paling menyenangkan yang kami kunjungi. Indah sekaligus menegangkan menyusurinya.



Saya inget banget, hari itu Jumat pagi-pagi kami berempat udah jalan kaki dari penginapan menuju dermaga Cukang Taneuh. Di dermaga ini tour menyusuri canyon dimulai. Loket penjualan tiket juga adanya di sini. Lokasinya persis di pinggir jalan raya Green Canyon-Cijulang, Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Pangandaran. Dari Pantai Pangandaran, jaraknya nyaris 27 km.

Sudah siap dengan kostum berani basah, ternyata kalau Jumat pagi wisata Green Canyon tutup. Bukanya nanti siang setelah shalat Jumat. Pantesan sepi, kirain kami datang kepagian. Pagi itu, kami alihkan dulu main airnya ke Pantai Batu Karas, yang lokasinya deketan. Siangnya, baru kembali ke Green Canyon.
 

Sesuai janji, lepas Jumatan kami datang lagi. Antrean udah banyak ternyata. Menyusuri Green Canyon kita harus sewa perahu. Satu perahu bisa untuk sekitar lima orang. Kalau gak salah waktu itu harganya 150.000 per satu perahu, untuk waktu kira-kira 45 menit pulang pergi. Dengan hitungan perjalanan 30 menit pp, dan 15 menit di lokasi buat lihat-lihat dan foto-foto misalnya. Itu di luar harga kalau kita berenang atau perahu standby lebih lama. Kalau mau berenang dan nambah waktu, ada extra charge 100 ribu rupiah untuk setiap 30 menit per satu perahu. Semua biaya resmi dan ada tiketnya. Kecuali extra time, yang dihitung langsung di tempat sama abang perahunya.

Perjalanan dimulai dengan menyusuri sungai Cijulang. Airnya tenang, warnanya kehijauan. Dan hijau adem juga di sekelilingnya. Ini mengapa Cukang Taneuh dijuluki dengan nama Green Canyon. Selain pengemudi perahu, kami juga ditemani seorang guide lokal. Kang Aldi namanya. Keberadaan pemandu sudah jadi standar prosedur wisata di tempat ini. Kata kang Aldi, sungai ini dalamnya puluhan meter. Lana dan Keano excited plus was-was karena mereka pikir di sungai ini ada buaya.


Ngarai diberi nama Cukang Taneuh oleh warga setempat karena di atasnya ada daratan yang terhubung menyerupai jembatan. Cukang dalam bahasa Sunda artinya jembatan, sementara Taneuh bermakna tanah. Titik Cukang Taneuh berada, menjadi gerbang petualangan merasakan derasnya jeram di antara tebing batu yang menjulang. Di sini perahu parkir, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki dan berenang.



Masuk lokasi penelusuran, semua pengunjung wajib pakai pelampung yang disediakan. Untuk yang bawa anak, pelampung ukuran kecil juga tersedia, seperti yang dipakai Keano. Dalamnya sungai, serta derasnya aliran membuat pelampung sangat dibutuhkan. Di bagian tengah, dasar sungai sama sekali tidak bisa terpijak saking dalamnya. Kaki kita cuma bisa menginjak bebatuan yang ada di pinggir, ataupun satu dua batu yang muncul di permukaan. Di beberapa tempat, disediakan tali untuk pegangan. Tali ini membantu banget saat kita harus berjalan atau berenang melawan arus air.


Awalnya Lana dan Keano takut. Kemudian Lana mulai mencoba keampuhan pelampungnya. Setelah merasakan enaknya mengapung, Lana malah kegirangan. Sementara Keano masih gak berani ngambang sendiri. Ia memilih nemplok sama papanya, saya, atau sesekali dipegangi Kang Aldi yang setia menunjukkan jalur sekaligus menjadi juru foto kami. Air di sini dingin tapi segar banget kena kulit. Sinar matahari yang masuk menerobos celah tebing, membuat pemandangan menakjubkan. Kalau mau narsis di Cukang Taneuh, semua kamera ataupun handphone berkamera harus dikondisikan tahan air. Banyak pengunjung yang membawa action camera macam go pro lengkap dengan housingnya. Kalau kami --berhubung kamera yang ada housingnya rusak-- menggunakan hp suami yang dibungkus plastik kedap. Cara ini efektif dan efisien.


Buat anak lima tahun seumuran Keano, cukup aman bertualang di Green Canyon. Selama peralatan keselamatan lengkap, dan pengawasan orang dewasa juga melekat. Di sini gampang banget soalnya terbawa arus. Jangankan anak kecil, orang dewasa aja susah ngelawannya. Peran guide bener-bener krusial mencari celah supaya kita bisa terus masuk ke dalam. Catatannya, perjalanan ke dalam Green Canyon itu membutuhkan banyak tenaga, karena kita harus melawan arus sungai. Di tengah jalan, kita ditantang untuk memanjat bebatuan. Sebagian gak terlalu tinggi tingkat kesulitannya. Dan asyiknya, batu-batu di sini sama sekali gak licin.

Lana dan  Keano pun gak perlu terlalu banyak dipegangi untuk memanjat. Sebagian lain butuh usaha lebih keras dan nyali lebih besar. Yang ini optional, khusus buat yang mencintai tantangan hehehe... Keinget masa muda, saya ikutan kang Aldi memanjat tebing batu yang menonjol ke arah sungai. Tingginya gak sampai 10 meter sih kira-kira. Tapi menuju ke situ harus susah payah dulu berenang melawan derasnya air. Udah gitu baru manjat dinding vertikal menuju teras di atasnya. Seruu... mengobati kerinduan akan rock climbing. Sampai di atas, tetap kita harus turun. Caranya dengan meloncat..


Terjun dari ketinggian menjadi kegirangan yang luar biasa. Jantung perasaan ketinggalan di atas, kalah cepet sama jatuhnya tubuh ke dalam air. Yup, D-A-L-A-M-nya air. Bener-bener DALAM sodara, karena ketika saya nyemplung dan badan ini masuk dengan tekanan cepat melewati muka sungai, di dalamnya saya sempat liat-liat sedikit, dasar airnya sama sekali gak keliatan.

Liat saya terjun, tadinya Lana juga mau ikutan. Tapi mengingat lompat dari titik ini pertama harus berenang nyebrang dulu melawan arus, kedua manjat dinding, ketiga terjun dari atas yang kemudian nyemplung ke dalam sungai hingga beberapa detik badan kita gak keliatan, naluri keibuan saya memilih berkata tidak. Nanti ya Nak, kalau kamu sudah agak besar, dan mama yakin kamu bisa menjaga keselamatan diri sendiri.
Sebagai penghibur, saya mengajak Lana lompat ke sungai dari bebatuan yang gak terlalu tinggi. Kami lompat bareng sambil berpegangan tangan.


Selain titik tempat saya melompat tadi, Cukang Taneuh memiliki banyak spot menarik lain. Kalau lagi pas cahayanya, kita bisa berfoto dengan latar belakang pelangi kecil di permukaan sungai.


Di beberapa tempat, tetesan air juga terus mengucur dari ketinggian tebing macam hujan gerimis. Katanya ini mata air abadi. Di atas kita adalah hutan serapan air. Mata air ini gak pernah kering meski musim kemarau.


Kebersamaan keluarga bener-bener teruji di sini. Saya dan suami suka wisata petualangan. Tapi, ketika melakukannya bersama anak, deg-degannya beda. Selain menikmati setiap tantangan untuk diri sendiri, terselip kekhawatiran akan keselamatan Lana dan Keano. Berdua, kami membagi tugas. Saya menjaga Lana, suami menjaga Keano yang lebih banyak gelendotan di punggung. Untungnya, bocah-bocah juga seneng. Melihat mereka gembira setiap melalui rintangan, membuat hati lega.



Menelusuri Green Canyon, gak ada titik batas pasti buat pengunjung. Yang jelas semakin jauh, semakin sepi orang. Selain fisik dan stamina, faktor waktu juga menjadi pertimbangan. Buat yang cepet capek, ya gak perlu terlalu jauh masuk. Lagipula, karena bayarnya per 30 menit, argo juga jalan terus hehehe..
Keluarga kami termasuk yang lumayan jauh menjelajah. Kami beristirahat sebentar di titik yang diberi nama kolam bidadari. Menuju kolam ini harus memanjat dulu. Baru deh keliatan kolam kecil yang menampung tetesan mata air. Naik dan turun kolam bidadari, Keano digendong, nemplok di punggung kang Aldi. Saya gak berani lama-lama mengingat keselamatan anak di ketinggian. Terasnya sempit, dan gak ada pengaman di pinggirnya. Kolam ini menjadi titik terjauh penjelajahan hari ini sebelum kembali pulang.

Kalau perjalanan masuk tadi kita harus melawan arus, pulangnya kita mengikuti arus. Tinggal cemplungin badan ke sungai, biarkan tubuh mengapung dan derasnya aliran air otomatis mengantar kita ke titik awal penjelajahan. Seruuuu, cukup mengarahkan tubuh ke kanan atau ke kiri, menghindari kejedot batu.


Sore menjelang Maghrib, petualangan ke Cukang Taneuh usai. Puas luar biasa. Saking asyiknya di Green Canyon, kami sampe hampir dua jam extra time-nya. Setelah bayar extra charge perahu, dan kasih tips ke kang Aldi --guide yang ramah, cekatan dan bisa diandalkan-- kami kembali ke penginapan. Bukan buat istirahat, tapi mandi, dan packing, untuk segera geser ke destinasi berikutnya. Perjalanan lanjut ke pantai Pangandaran.


You Might Also Like

1 komentar

  1. terimakasih infonya sangat menarik, jangan lupa kunjungi web kami http://bit.ly/2BNthKE

    ReplyDelete